Moment menutup tahun 2011 dan mengawali tahun 2012, saya mencatat beberapa point menarik dari sinyal pergerakan ekonomi dunia yang mungkin saja jika tidak diantisipasi akan berdampak terhadap pergerakan ekonomi Kalimantan Barat. Sinyal pertama datang dari Presiden Bank Dunia, Robert Zoellick yang pada pertengahan September 2011 memperingatkan bahwa pasar dan ekonomi global kini memasuki “zona bahaya baru”. Negara di Eropa, Jepang dan AS tak hanya menghadapi penurunan ekonomi yang menimpa mereka sendiri, namun juga bertanggung jawab terhadap ekonomi global (VIVAnews, 15 September 2011).
Sinyal kedua, datang dari kasus ekonomi Jerman dan Itali yang cukup unik dan juga menarik dicermati. Roland Döhrn dari Institut Riset Ekonomi Rheinisch-Westfälischen (RWI) menyatakan bahwa citra yang dipancarkan perekonomian Jerman saat ini bisa dibilang cukup aneh. Pertumbuhan ekonomi mencapai 3 persen, nilai ekspor untuk pertama kalinya mencapai lebih dari 1 triliun Euro dan uniknya angka pengangguran berada di level terendah. Di sisi lain, warga Jerman dilanda ketidakpastian akibat krisis mata uang Euro dan kekhawatiran inflasi. Apa yang warga Jerman lakukan saat mengkhawatirkan nilai dan masa mata uang mereka di tahun 2012? Mereka belanja. Dampaknya, pertumbuhan konsumsi pribadi memberi kontribusi hingga setengah dari pertumbuhan ekonomi Jerman. Roland memperkirakan konsumsi pribadi akan mendorong 0,6 persen dari laju pertumbuhan ekonomi Jerman di tahun 2012.
