Showing posts with label Rasmi Sattar. Show all posts
Showing posts with label Rasmi Sattar. Show all posts
Monday, December 19, 2011
Memberantas Korupsi Model Hongkong
Korupsi merupakan penyakit masyarakat yang hampir melanda seluruh negara. Setiap negara mempunyai cara tersendiri untuk memberantas korupsi ini. Di Indonesia sudah puluhan tahun pemerintah berupaya untuk memberantas korupsi mulai Presiden Soekarno sampai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di masa reformasi ini. Tapi ternyata korupsi tetap marak bahkan semakin berkembang biak, baik korupsi sendiri-sendiri maupun secara berjamaah.
Fenomena mengenai korupsi ini memang semakin menyakitkan, karena yang terlibat justru orang yang harus menjadi teladan seperti beberapa kepala daerah dan beberapa anggota dewan, bahkan diantara oknum penegak hukum pun ternyata tergiur juga untuk memperkaya diri dengan cara yang illegal ini. Walaupun Pemerintah sudah membentuk lembaga yang namanya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tapi ternyata yang melakukan korupsi bukannya semakin berkurang tapi justru semakin bertambah. Dan yang dikorupsi juga tidak tanggung-tanggung, ada yang mencapai puluhan milyar rupiah.
Tuesday, November 29, 2011
Menegakkan Ajaran Tauhid
Oleh : Rasmi Sattar
Setiap tahun kita merayakan dan melaksanakan Idul Adha atau Idul Qurban yang jatuh pada tanggal 10 Zulhijjah. Tahun ini bertepatan dengan 6 November 2011. Tradisi yang lazim kita laksanakan setelah melaksanakan shalat id di masjid atau di lapangan, dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban, apakah kambing, sapi, atau kerbau. Peristiwa penyembelihan hewan kurban ini bermula dari perintah Allah yang menguji kedahsyatan dan kekuatan iman Nabi Ibrahim dengan menyuruh menyembelih anaknya (Ismail), apakah Ibrahim konsisten menempuh ujian untuk menegakkan ajaran tauhid, tiada Tuhan selain Allah, seperti yang termaktub dalam Alquran surat Asshaffat ayat 102.
Tentu saja ada dua pilihan yang harus dipertimbangkan Nabi Ibrahim. Jika melaksanakan perintah Allah, berarti anaknya menjadi korban. Jika anaknya diselamatkan atau tidak dikorbankan, berarti melanggar perintah Allah. Wahyu yang diterima Nabi Ibrahim ternyata dikompromikan dengan anaknya (Ismail). “Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi (wahyu) bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah bagaimana pendaptmu” (Asshaffat 102). Rupanya diluar dugaan Ibrahim, ternyata Ismail menjawab, “ Wahai ayahku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah ayah akan melihatku termasuk orang-orang yang sabar.”
Setiap tahun kita merayakan dan melaksanakan Idul Adha atau Idul Qurban yang jatuh pada tanggal 10 Zulhijjah. Tahun ini bertepatan dengan 6 November 2011. Tradisi yang lazim kita laksanakan setelah melaksanakan shalat id di masjid atau di lapangan, dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban, apakah kambing, sapi, atau kerbau. Peristiwa penyembelihan hewan kurban ini bermula dari perintah Allah yang menguji kedahsyatan dan kekuatan iman Nabi Ibrahim dengan menyuruh menyembelih anaknya (Ismail), apakah Ibrahim konsisten menempuh ujian untuk menegakkan ajaran tauhid, tiada Tuhan selain Allah, seperti yang termaktub dalam Alquran surat Asshaffat ayat 102.
Tentu saja ada dua pilihan yang harus dipertimbangkan Nabi Ibrahim. Jika melaksanakan perintah Allah, berarti anaknya menjadi korban. Jika anaknya diselamatkan atau tidak dikorbankan, berarti melanggar perintah Allah. Wahyu yang diterima Nabi Ibrahim ternyata dikompromikan dengan anaknya (Ismail). “Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi (wahyu) bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah bagaimana pendaptmu” (Asshaffat 102). Rupanya diluar dugaan Ibrahim, ternyata Ismail menjawab, “ Wahai ayahku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah ayah akan melihatku termasuk orang-orang yang sabar.”
Subscribe to:
Posts (Atom)
