MASIH ingat dalam benak para investor di pasar modal, IHSG (indeks harga saham gabungan) Bursa Efek Indonesia sempat menyentuh angka tertinggi 4.193,441 pada 1 Agustus 2011. Saat itu, mayoritas investor meyakini bahwa pada akhir Desember 2011 IHSG akan mudah menembus 4.500 bahkan 5.000. Namun, sebagian di antara merekamun g kin lupa atau bahkan tidak tahu bahwa pergerakan IHSG BEI sangat bergantung pada 15 emiten yang menguasai 50 persen kapitalisasi pasar BEI.
Lima belas emiten itu hanya sekitar 4 persen di antara sekitar 400-an emiten yang listed di BEI. Secara psikologis, mereka pun lupa ilmu investasi dua ’’TA’’: jual ketika or ang lain ’’TAmak’’ dan beli ketika or ang lain ’’TAkut’’. Mayoritas di antara mereka saat itu sedang ’’TAmak’’ dan terpengaruh media, milis, atau bahkan obrolan-obrolan yang memprediksi bahwa IHSG akan terus naik. Tidak terlalu salah memang. Sebab, angka prediksi pertumbuhan, adanya kenaikan rating Indonesia dan berbagai prediksi optimistis tentang Indonesia mengiringi keputusan investasi investor. Hanya, investor perlu mengingat sejarah pasar modal, kejadian yang selalu terulang, dan membaca beberapa hal untuk melihat peluang serta ancaman pada 2012.
