ADA tiga hal yang selalu menjadi tujuan bagi seseorang di dunia ini, yaitu “3 TA” yang terdiri dari TAHTA (Baca: Kedudukan/Jabatan), HARTA (Baca: Uang) dan WANITA (baca: Perhiasan), yang pertama harus diperjuangkan tentulah Tahta, kalau Tahta sudah didapat, Harta dan wanita tinggal persoalan waktu saja. Itulah jurus yang diamalkan oleh Ken Arok yang bergelar Sri Radjasa Amurwhabumi Raja Singasari di abad ke 12 yang tentunya masih relevan dengan kondisi saat ini.
Menurut kitab Pararaton dan Negarakertagama (kitab sejarah Raja-raja Singhasari dan Majapahit), awal cerita dimulai ketika seorang gembong pencuri menemukan seorang bayi yang bersinar di tengah malam buta disuatu perkuburan. Bayi itu kemudian diberi nama Ken Arok. Karena diangkat anak oleh Gembong pencuri, pemuda Arok tumbuh menjadi pencuri yang luar biasa lihainya. Sayang karirnya sebagai pencuri cepat berakhir seriring dengan matinya sang gembong pencuri. Sepeninggal bapak angkatnya dia diasuh oleh seorang pendeta, sejak saat itu dia berhenti menyamun dan berubah profesi menjadi abdi seorang Akuwu (Bupati) di Tumapel yang bernama Tunggul Ametung. Alkisah setelah mengabdi bertahun tahun Ken Arok menjadi orang kepercayaan Tunggul Ametung. Semua masalah ditanganinya dan semua persoalan beres ditangannya. Ketika dia mulai merasakan nikmatnya jabatan sebagai abdi Akuwu dan rasa kegumnya dengan Ken Dedes istri majikannya, munculah ambisinya menjadi seorang Akuwu.
