Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Leo Sutrisno. Show all posts
Showing posts with label Leo Sutrisno. Show all posts

Sunday, January 22, 2012

Ganti Visi Untan

Oleh : Leo Sutrisno
Dua minggu yang lalu, saya berkesempatan mengikuti pertemuan yang digelar oleh International Office Universitas Tanjungpura. Dalam pertemuan itu dibentuk Gugus Tugas hubungan kerjasama Untan-Perguruan Tinggi di AS. Anggota gugus tugas diambil dari para dosen yang pernah belajar di luar negeri terutama di universitas-universitas AS.

Karena hubungan kerjasama ini bersifat dua arah, pembicaraan saat itu juga menyangkut apa yang dapat ditawarkan Untan kepada sivitas akademika perguaruan tinggi mitra. Ternyata, jawabannya tidak mudah ditemukan. Mengapa?  Karena, Untan belum memiliki program unggulan yang diakui keunggulannya. Padahal, sejak tahun 1996 Untan telah merumuskan visinya. “Pada tahun 2020, Universitas Tanjungpura menjadi institusi preservasi dan pusat informasi ilmiah Kalimantan Barat”

Saturday, January 21, 2012

Koefisien Phi

Oleh : Leo Sutrisno
SEORANG pembaca, mengirimkan mengirim email ’sekadar iseng’ tulisnya. Pembaca ini bercerita bahwa sebentar lagi akan ada pemilihan gubernur Provinsi Kalimantan Barat. Hingga saat ini belum ada gubernur perempuan di Indonesia. Bupati, wali kota sudah ada. Ia ’iseng’ bertanya-tanya adakah hubungan antara jenis kelamin dan terpilih menjadi gunbernur atau kepala daerah. Kalau hubungan itu diketahui, tentu dapat diprediksi terpilih atau tidak berdasarkan jenis kelamin calon.

Friday, December 23, 2011

Refleksi Akhir Tahun 2011 :Lokalitas Pendidikan di Era Global

Leo Sutrisno

Dalam tahun 2011 ini kembali kebudayaan dan pendidikan masuk dalam ‘kandang’ yang sama setelah berpisah sekitar sepuluh tahun. Kebudayaan dan pendidikan bergabung ke dalam kementerian pendidikan dan kebudayaan. Penyatuan ini bermula dari keprihatinan masyarakat luas tentang hasil pendidikan belakangan ini.

MASYARAKAT merasakan ada kemerosotan moral yang merata. Banyak orang berpendapat bahwa pendidikan menghasilkan orang-orang yang pandai tetapi kurang berkarakter [Indonesia], orang yang pandai tetapi tidak berwajah Indonesia.  Sementara itu, dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada di depannya, manusia memandang pendidikan merupakan sebuah aset yang sangat diperlukan.  Pendidikan, walaupun bukan panasea, memiliki peran penting dalam perkembangan menusia baik  individual maupun sosial. Pendidikan dipandang sebagai  satu-satunya ‘alat’ yang tersedia untuk mendorong terwujudnya  pembangunan manusia seutuhnya.

Saturday, December 10, 2011

Validitas Ekologi

Oleh Leo Sutrisno

SEORANG pembaca kolom edukasi mengirimkan pesan singkat melalui telepon genggam meminta agar diturunkan tulisan tentang validitas ekologi. Karena, pembaca ini disodori pertanyaan oleh penguji thesis magisternya beberapa waktu yang lalu, ”Bagaimana validitas ekologi hasil penelitian Anda ini?” Baik, seperti biasa, ucapan terima kasih yang tulus disampaikan pada pembaca. Respon-respon semacam ini menjadikan kolom ini terasa lebih aktif dan segar.

Secara sederhana, validitas ekologi [ecological validity] hasil penelitian merujuk pada implementasi temuan penelitian pada situasi yang sesungguhnya. Misalnya, ada penelitian yang menemukan bahwa metode mengajar diskusi membuat hasil belajar siswa meningkat. Validitas ekologi membahas implementasi temuan itu di sekolah atau di daerah tertentu. Semakin banyak sekolah atau daerah yang dapat mengimplementasikan temuan itu semakin tinggilah validitas ekologi hasil penelitian ini. Mari cermati bahasan berikut ini.

Wednesday, November 30, 2011

Etika Kebijaksanaan Toleran pada Penyimpangan

EDITORIAL Pontianak Post Senin 28 November 2011 mengangkat moralitas aparat yang memprihatinkan. Diilustrasikan seorang jaksa dan dua orang hakim yang bertindak asusila terhadap para perempuan yang sedang perkaranya mereka tangani. Kejadian itu serta sejumlah kasus lain yang mirip menunjukkan pengawasan melekat lemah. Disarankan agar tindakan para penegak hukum ini diproses secara hukum dengan tegas. Jika perlu sanksinya diperberat. Diingatkan juga agar semangat korps untuk melindungi aparat yang bersangkutan seharusnya ditinggalkan. Tindakan tegas semacam ini diharapkan menimbulkan efek jera. Benarkah!
Tindakan hukum setegas apa pun tidak akan menimbulkan efek jera bagi yang bersangkutan. Mengapa? Hingga saat ini, masyarakat Indonesia mengembangkan etika kebijaksanaan yang mengedepankan kerukunan dan kedamaian. Setiap orang diharapkan menjaga diri agar tetap rukun dengan yang lain. Karena, hanya dengan rukun itu kedamaian dapat diwujudkan.

Thursday, November 10, 2011

Seratus Persen Orang Katolik Indonesia

Oleh : Leo Sutrisno

DIBERITAKAN bahwa tahun ini, 8 November 2011, pemerintah menganugerahi tujuh orang anak bangsa terbaik gelar pahlawan nasional. Mereka itu adalah:
1. Syafruddin Prawiranegara (Alm) Tokoh Pejuang dari Jawa Barat
2. KH Idham Chalid (Alm)Tokoh Pejuang dari Kalimantan Selatan
3. Prof Dr Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka) (Alm) Tokoh Pejuang dari Sumatera Barat
4. Ki Sarmidi Mangunsarkoro (Alm) Tokoh Pejuang dari DIY Yogyakarta
5. I Gusti Ketut Pudja (Alm) Tokoh Pejuang Bali
6. Sri Susuhanan Pakubuwono X (Alm) Tokoh Pejuang Jawa Tengah
7. Ignatius Josep Kasimo Hendrowahoyono (Alm) Tokoh Pejuang asal Yogjakarta.
Bagi sebagian pembaca mungkin belum begitu mengenal tokoh pejuang yang ke-7, almarhum Ignatius Josep Kasimo Hendrowahoyono, yang biasa disapa  ‘Pak Kasimo’. Tulisan ini sedikit mengenalkannya yang didasarkan pada buku “Biografi I.J. Kasimo: Politik yang bermartabat”, karya J.B. Soedarmanta [Penerbit Buku Kompas, Mei 2011]. Pak Kasimo, secara singkat digambarkan oleh Chris Siner Key Timu [hal. 296] sebagai: seorang tokoh masyarakat,  seorang tokoh pergerakan, seorang eksponen angkatan ’28, dan seorang negarawan.