Contohnya AAL yang masih berumur 15 tahun terancam hukuman kurungan maksimal selama lima tahun gara-gara maling sandal jepit bekas (ditaksir harga maksimalnya mencapai tiga puluh ribu rupiah). Bukan soal perbuatannya yang menyita perhatian publik. Karena saya pun sepakat, mengambil barang sekecil apapun tanpa izin adalah tetap perbuatan salah. Tapi ini adalah soal “keadilan”.
Showing posts with label Syamsul Kurniawan. Show all posts
Showing posts with label Syamsul Kurniawan. Show all posts
Monday, January 30, 2012
Beda Maling Kelas Kakap dan Kelas Teri
Oleh : Syamsul Kurniawan
APA yang disampaikan Ade Febriansyah di rubrik Halo Publik Pontianak Post (18/01/2012) menarik untuk kita simak. Dalam tulisannya yang berjudul, Hukum “Si Hati Buta”, Febriansyah mempertanyakan hukum kita yang seolah-olah menjadi mainan para petinggi yang berkuasa semaunya. Keberpihakan hukum yang dilihat dari status sosial: kaya atau miskin. Saya setuju sekali dengan uraian Febriansyah dalam tulisannya tersebut.
Contohnya AAL yang masih berumur 15 tahun terancam hukuman kurungan maksimal selama lima tahun gara-gara maling sandal jepit bekas (ditaksir harga maksimalnya mencapai tiga puluh ribu rupiah). Bukan soal perbuatannya yang menyita perhatian publik. Karena saya pun sepakat, mengambil barang sekecil apapun tanpa izin adalah tetap perbuatan salah. Tapi ini adalah soal “keadilan”.
Contohnya AAL yang masih berumur 15 tahun terancam hukuman kurungan maksimal selama lima tahun gara-gara maling sandal jepit bekas (ditaksir harga maksimalnya mencapai tiga puluh ribu rupiah). Bukan soal perbuatannya yang menyita perhatian publik. Karena saya pun sepakat, mengambil barang sekecil apapun tanpa izin adalah tetap perbuatan salah. Tapi ini adalah soal “keadilan”.
Tuesday, January 10, 2012
Era “Abu-abu”
Oleh: Syamsul Kurniawan
TAHUN 2011 yang baru saja kita lewati, abu-abu terjadi hampir di semua aspek kehidupan. Antara yang benar dan yang salah sesuatu yang kabur. Lihat saja misalnya, orang mulai sulit membedakan antara korupsi dan komisi, uang suap dan tali asih, studi banding dan piknik, antara kekerasan dan solusi, dan seterusnya. Nilai-nilai menjadi kabur. Pedoman nyaris tidak ada lagi. Kalaupun ada, pedoman itu biasanya hanya berada di atas kertas, di pidato-pidato, atau di seminar-seminar, dan, dan diskusi. Entah pedoman itu berupa undang-undang, peraturan-peraturan pemerintah, atau apapun, seringkali tidak dapat diterapkan di lapangan karena yang berlaku di sana adalah prinsip abu-abu.
Benar bisa disalahkan, salah bisa dibenarkan. Seorang terhukum bisa tetap menjadi menjadi pimpinan lembaga negara, wakil rakyat yang seharusnya bertindak demi rakyat pun bisa melakukan tindakan yang justru menyakitkan rakyat. Lalu orang pun mulai tidak percaya diri melihat gejala seperti itu, mulai sulit melihat secara jernih mana yang benar dan mana yang salah. Atau setidaknya banyak orang yang mulai apatis, acuh tak acuh, dan tidak peduli terhadap hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai.
TAHUN 2011 yang baru saja kita lewati, abu-abu terjadi hampir di semua aspek kehidupan. Antara yang benar dan yang salah sesuatu yang kabur. Lihat saja misalnya, orang mulai sulit membedakan antara korupsi dan komisi, uang suap dan tali asih, studi banding dan piknik, antara kekerasan dan solusi, dan seterusnya. Nilai-nilai menjadi kabur. Pedoman nyaris tidak ada lagi. Kalaupun ada, pedoman itu biasanya hanya berada di atas kertas, di pidato-pidato, atau di seminar-seminar, dan, dan diskusi. Entah pedoman itu berupa undang-undang, peraturan-peraturan pemerintah, atau apapun, seringkali tidak dapat diterapkan di lapangan karena yang berlaku di sana adalah prinsip abu-abu.
Benar bisa disalahkan, salah bisa dibenarkan. Seorang terhukum bisa tetap menjadi menjadi pimpinan lembaga negara, wakil rakyat yang seharusnya bertindak demi rakyat pun bisa melakukan tindakan yang justru menyakitkan rakyat. Lalu orang pun mulai tidak percaya diri melihat gejala seperti itu, mulai sulit melihat secara jernih mana yang benar dan mana yang salah. Atau setidaknya banyak orang yang mulai apatis, acuh tak acuh, dan tidak peduli terhadap hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai.
Sunday, January 1, 2012
Pendidikan Karakter Jangan Sebatas Retorika
Oleh: Syamsul Kurniawan*
TENTUNYA kita masih ingat dengan kejadian berikut. Tanggal 16 Mei 2011 lalu, tepatnya setelah 4 hari ujian nasional berakhir, Siami mengetahui bahwa putranya Alif diminta oleh gurunya untuk memberikan contekan jawaban kepada siswa lainnya di dalam kelas. Siami lantas mengkonfirmasi hal ini pada kepala sekolah. Tak puas dengan jawaban kepala sekolah, ia lalu mengadu ke komite sekolah namun tak kunjung mendapat tanggapan, ia pun membawa masalah ini ke sebuah radio di Surabaya hingga akhirnya laporan tersebut sampai ke telinga Walikota Surabaya, Tri Rismaharini.
Setelah dilakukan proses penyidikan, sanksi pun dijatuhkan pada pihak yang dinilai bertanggung jawab yaitu satu kepala sekolah dan dua guru. Sanksi pada tiga pendidik ini lantas memicu kemarahan wali murid. Mereka menilai Siami dan keluarganya tak punya hati, serta telah mencemarkan nama sekolah dan kampung. Setidaknya empat kali warga menggelar demonstrasi di depan rumahnya. Puncaknya terjadi pada Kamis 9 Juni 2011. Lebih dari 100 warga Kampung Gadel Sari dan wali murid SDN Gadel II menuntut Siami meminta maaf dan mengusir Siami sekeluarga dari kampung.
TENTUNYA kita masih ingat dengan kejadian berikut. Tanggal 16 Mei 2011 lalu, tepatnya setelah 4 hari ujian nasional berakhir, Siami mengetahui bahwa putranya Alif diminta oleh gurunya untuk memberikan contekan jawaban kepada siswa lainnya di dalam kelas. Siami lantas mengkonfirmasi hal ini pada kepala sekolah. Tak puas dengan jawaban kepala sekolah, ia lalu mengadu ke komite sekolah namun tak kunjung mendapat tanggapan, ia pun membawa masalah ini ke sebuah radio di Surabaya hingga akhirnya laporan tersebut sampai ke telinga Walikota Surabaya, Tri Rismaharini.
Setelah dilakukan proses penyidikan, sanksi pun dijatuhkan pada pihak yang dinilai bertanggung jawab yaitu satu kepala sekolah dan dua guru. Sanksi pada tiga pendidik ini lantas memicu kemarahan wali murid. Mereka menilai Siami dan keluarganya tak punya hati, serta telah mencemarkan nama sekolah dan kampung. Setidaknya empat kali warga menggelar demonstrasi di depan rumahnya. Puncaknya terjadi pada Kamis 9 Juni 2011. Lebih dari 100 warga Kampung Gadel Sari dan wali murid SDN Gadel II menuntut Siami meminta maaf dan mengusir Siami sekeluarga dari kampung.
Friday, November 18, 2011
SEA Games Tumbuhkan Semangat Nasionalisme
Oleh: Syamsul Kurniawan
LUAR biasa! Demikianlah pendapat saya menyaksikan atsmosfer dukungan masyarakat Indonesia dalam perayaan pesta olahraga SEA Games XXVI belakangan ini. Besarnya dukungan masyarakat ini bisa kita lihat dari antusiasme masyarakat menyaksikan pertandingan demi pertandingan SEA Games yang digelar. Ini modal bagus di samping memacu semangat berprestasi para atlet Indonesia, perayaan pesta olahraga ini seolah-olah kembali membakar semangat nasionalisme kita sebagai warga negara Indonesia.
Contohnya yang menarik saya ulas dalam tulisan ini adalah, dalam cabang olahraga sepak bola. Kesuksesan Timnas U23 binaan pelatih Rahmad Darmawan menggulung lawan-lawan tandingnya sementara ini, saya kira juga disebabkan karena dukungan besar dari supporter Indonesia di stadion Gelora Bung Karno. Perasaan bangga sebagai warga negara Indonesia seolah-olah tumbuh terutama ketika mendengar lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan pemain timnas U23 bersama-sama supporter dari Indonesia yang jumlahnya luar biasa memadati stadion Gelora Bung Karno sebelum pertandingan dimulai. Lagu Indonesia terdengar bergemuruh memadati isi stadion.
LUAR biasa! Demikianlah pendapat saya menyaksikan atsmosfer dukungan masyarakat Indonesia dalam perayaan pesta olahraga SEA Games XXVI belakangan ini. Besarnya dukungan masyarakat ini bisa kita lihat dari antusiasme masyarakat menyaksikan pertandingan demi pertandingan SEA Games yang digelar. Ini modal bagus di samping memacu semangat berprestasi para atlet Indonesia, perayaan pesta olahraga ini seolah-olah kembali membakar semangat nasionalisme kita sebagai warga negara Indonesia.
Contohnya yang menarik saya ulas dalam tulisan ini adalah, dalam cabang olahraga sepak bola. Kesuksesan Timnas U23 binaan pelatih Rahmad Darmawan menggulung lawan-lawan tandingnya sementara ini, saya kira juga disebabkan karena dukungan besar dari supporter Indonesia di stadion Gelora Bung Karno. Perasaan bangga sebagai warga negara Indonesia seolah-olah tumbuh terutama ketika mendengar lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan pemain timnas U23 bersama-sama supporter dari Indonesia yang jumlahnya luar biasa memadati stadion Gelora Bung Karno sebelum pertandingan dimulai. Lagu Indonesia terdengar bergemuruh memadati isi stadion.
Sunday, November 6, 2011
Kemana “Ruh” Sumpah Pemuda?
Oleh: Syamsul Kurniawan
MENURUT sejarah pada tanggal 28 Oktober 1928 di Gedung Oost-Java Bioscoop, Jakarta diselenggarakan Kongres Pemuda II. Pada penutupan Kongres II ini, selain diperdengarkan Lagu Indonesia Raya oleh WR Supratman melalui gesekan biolanya, juga dibacakan rumusan hasil kongres tersebut yang selanjutnya disebut sumpah pemuda yang merupakan sumpah setia para pemuda masa sulit itu. Sumpah Pemuda dikumandangkan oleh pemudi-pemuda karena keterkaitan yang erat secara batin memiliki Tanah air satu, ber Bahasa satu dan ber Bangsa satu yaitu Indonesia. Mengapa hal ini dapat terwujud? Tiada lain karena pemuda kita saat itu memiliki kesadaran dan tanggung jawab yang tinggi kepada Bangsa dan Negara Republik Indonesia tanpa pretensi lain.
Namun, melihat rupa-rupa krisis yang dialami bangsa kita saat ini, muncul pertanyaan: apakah rasa tanggung jawab kebangsaan pemuda saat ini telah hilang?. Kemana “ruh” sumpah pemuda pada hari ini? Perhatikanlah bagaimana perayaan Hari Sumpah Pemuda diperingati, kebanyakan hanya seremonial belaka. Tidak memberi inspirasi bagi kemajuan seluruh rakyat. Para murid berkumpul di halaman sekolah, lalu seorang siswa membacakan butir-butir sumpah pemuda, diikuti seluruh yang hadir, kata sambutan dari pimpinan upacara, selesai. Itupun kalau ada. Padahal, kondisi pemahaman masyarakat termasuk pemuda kita dalam memaknai sumpah pemuda sudah demikian tergerus, sama halnya dengan nilai-nilai nasionalisme di kalangan pejabat/ pimpinan yang semakin memudar.
MENURUT sejarah pada tanggal 28 Oktober 1928 di Gedung Oost-Java Bioscoop, Jakarta diselenggarakan Kongres Pemuda II. Pada penutupan Kongres II ini, selain diperdengarkan Lagu Indonesia Raya oleh WR Supratman melalui gesekan biolanya, juga dibacakan rumusan hasil kongres tersebut yang selanjutnya disebut sumpah pemuda yang merupakan sumpah setia para pemuda masa sulit itu. Sumpah Pemuda dikumandangkan oleh pemudi-pemuda karena keterkaitan yang erat secara batin memiliki Tanah air satu, ber Bahasa satu dan ber Bangsa satu yaitu Indonesia. Mengapa hal ini dapat terwujud? Tiada lain karena pemuda kita saat itu memiliki kesadaran dan tanggung jawab yang tinggi kepada Bangsa dan Negara Republik Indonesia tanpa pretensi lain.
Namun, melihat rupa-rupa krisis yang dialami bangsa kita saat ini, muncul pertanyaan: apakah rasa tanggung jawab kebangsaan pemuda saat ini telah hilang?. Kemana “ruh” sumpah pemuda pada hari ini? Perhatikanlah bagaimana perayaan Hari Sumpah Pemuda diperingati, kebanyakan hanya seremonial belaka. Tidak memberi inspirasi bagi kemajuan seluruh rakyat. Para murid berkumpul di halaman sekolah, lalu seorang siswa membacakan butir-butir sumpah pemuda, diikuti seluruh yang hadir, kata sambutan dari pimpinan upacara, selesai. Itupun kalau ada. Padahal, kondisi pemahaman masyarakat termasuk pemuda kita dalam memaknai sumpah pemuda sudah demikian tergerus, sama halnya dengan nilai-nilai nasionalisme di kalangan pejabat/ pimpinan yang semakin memudar.
Subscribe to:
Posts (Atom)
