Tahun lalu saya turut hadir mengantar orang yang akan berangkat ibadah haji. Pada hari itu diadakan semacam proses pelepasan mirip seperti melepas seseorang yang meninggal dunia. Mengapa demikian, sebab ada tangis dan air mata di sana. Air mata dari orang yang melepas dan air mata dari sang calon haji sendiri. Doa-doa pelepasan yang dibacakan disertai sebutan asma Allah menambah bulu kuduk saya berdiri. Rasa haru pun menyelimuti. Benar-benar mirip dengan melepas kepergian jenazah, pikir saya.
Mengapa harus ada tangis dan air mata pada saat seseorang berangkat untuk beribadah haji? Bukankah ia hanya akan pergi sesaat untuk beribadah menunaikan panggilan Allah, Tuhan Penguasa Alam. Mengapa harus disedihkan? Pendapat sederhana seorang teman mengenai hal itu, orang pergi haji laksana orang meninggal dunia. Orang berangkat pergi haji, walau untuk beribadah beberapa saat untuk menghadap panggilan Allah. Hal ini persis seperti orang meninggal dunia yang pada hakikatnya juga dipanggil Allah. Jadi pada peristiwa berangkat haji dan wafatnya seseorang terdapat satu situasi yang kurang lebih sama; adanya perpisahan. Alhasil, tangis, air mata, dan rasa haru pasti hadir pada tiap-tiap perpisahan.
